DOWNLOAD QURAN 3D LINK MEDIA FIRE



Bismillah...
Assalamualaikum ..

          Di zaman canggih ini Al Qur'an ada juga yang berbentuk digital lho... Dengan Al Qur'an digital ini, kita bisa membaca Kitab Suci melalui PC/Laptop. Software ini menonjolkan kualitas grafis 3D dan penggunaan yang mirip seperti membaca Al Qur'an sungguhan. Sudut pandang dapat diatur sesuai keinginan, dan tulisannya sangat jelas serta mudah dibaca. Bisa pula di-zoom untuk memperbesar tampilan. Kita juga bisa mencari Surah tertentu atau Juz tertentu.

Software ini cukup ringan, hanya sekitar 40 MB dan tidak memerlukan instalasi. Sebelum download, silakan lihat-lihat dulu screenshot Software Al Quran 3D di bawah ini.




NAH YANG MAU SILAHKAN DOWNLOAD..
DOWNLOAD QURAN 3d LINK MEDIA FIRE
Thursday, 19 December 2013
Posted by HAFIZ KHAIRI

IBNU SIRRIN




Sirin berhasrat menyempurnakan separuh dari agamanya dengan menikah setelah Anas bin Malik r.a. membebaskannya dari belenggu perbudakan dan setelah pekerjaannya mendatangkan banyak keuntungan, karena dia memang seorang ahli membuat periuk.
Pada hari yang telah direncanakan, Sirin menghadap Abu Bakar Ash-Shidiq untuk meminang Shafiyah. Abu Bakar menyelidiki hal ihwal si peminang seperti layaknya seorang ayah manakala putrinya hendak dipinang.
Tidak aneh, karena kedudukan Shafiyah bagi Abu Bakar laksana putri bagi ayahnya, disamping ia adalah amanat yang dititipkan Allah kepadanya. Oleh karena itu beliau meneliti keadaan Sirin dengan cermat dan mempelajari kehidupannya dengan hati-hati. Di antara yang dimintai keterangan tentangnya adalah Anas bin Malik. Ketika ditanya, Anas menjawab, “Nikahkan lah ia dengan budakmu wahai amirul mukminin, dan janganlah engkau mengkhawatirkan keadaannya, saya tidak mengenalnya melainkan bahwa dia adalah seorang yang bagus agamanya, bagus akhlaknya dan menjaga kehormatannya. Aku telah menjalin hubungan dengannya semenjak menjadi tawanan Khalid bin Walid bersama empat puluh budak lain yang masih kecil-kecil. Setelah dibawa ke Madinah, Sirin menjadi bagianku dan aku sangat beruntung mendapatkan dia.”
Akhirnya Abu Bakar Ash-Shidiq merestui pernikahan antara Shafiyah dengan Sirin. Maka diselenggarakanlah walimah pernikahan seperti halnya walimah untuk putrinya sendiri. Suatu hal yang sangat jarang dinikmati oleh budak atau pembantu wanita lainnya di Madinah.
Pernikahan itu disaksikan oleh banyak sahabat utama, di antaranya terdapat 18 sahabat yang ikut perang Badar. Ubai bin Ka’ab penulis wahyu Rasulullah SAW. diminta untuk mendo’akannya sementara hadirin mengamininya.
Pengantin wanita dirias oleh tiga dari ummahatul mukminin untuk suaminya. Di antara buah dari pernikahan itu lahir seorang bayi yang dua puluh tahun kemudian menjadi satu di antara ulama yang tersohor. Dialah Muhammad bin Sirin. Marilah kita ikuti lembaran hidup tabi’in utama ini dari awal.
Muhammad bin Sirin lahir dua tahun sebelum berakhirnya khilafah Utsman bin Affan dan tumbuh besar di suatu rumah yang dipenuhi semerbak wewangian takwa dan wara’ di setiap sudutnya.
Memasuki usia remaja, anak itu mendapati masjid Rasulullah penuh dengan para sahabat dan tokoh tabi’in seperti Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Imron bin Hushain, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair dan Abu Hurairah.
Betapa antusias beliau menyambut mereka seperti layaknya orang kehausan yang menemukan air yang jernih. Diserapnya dari mereka ilmu-ilmu dari Kitabullah, didalaminya masalah fiqih dan riwayat-riwayat hadits Rasulullah SAW. Otaknya makin subur dan penuh dengan hikmah dan ilmu, jiwanya makin kaya akan kebaikan dan hidayah.
Kemudian berpindahlah keluarga beserta remaja yang brilian ini ke Bashrah dan menjadikannya sebagai tempat untuk menetap.
Ketika itu, Bashrah termasuk kota Baru yang dibangun kaum muslimin pada akhir masa khalifah Al-Faruq Umar bin Khathab Kota tersebut merupakan kota yang istimewa bagi umat Islam pada masa itu, yaitu sebagai basis bagi pasukan muslimin untuk berperang di jalan Allah, sebagai pusat pengajaran dan pembinaan bagi penduduk Irak dan Persia yang baru memeluk Islam dan merupakan cermin masyarakat Islam yang giat berusaha untuk dunia seakan hidup selamanya dan beramal untuk akhirat seakan hendak mati keesokan harinya.
Muhammad bin Sirin menjalani lembaran hidup yang baru di Bashrah dengan proporsional. Sebagian dari harinya digunakan untuk mencari ilmu dan ibadah, sebagian lagi untuk mata pencaharian dan berdagang.
Telah menjadi kebiasaan beliau, ketika matahari terbit, beliau berangkat ke masjid Bashrah untuk mengajar sambil belajar. Bila matahari mulai tinggi, beliau keluar menuju pasar untuk berdagang. Bila malam menjelang, beliau tekun di mihrab rumahnya, menghayati Al-Qur’an dengan sepenuh jiwa sampai menangis karena takutnya kepada Allah. Sampai-sampai keluarga dan sahabat-sahabat karibnya merasa iba mendengar tangisannya yang menyayat hati.
Setiap kali beliau ke pasar di siang hari, tak bosan-bosannya beliau mengingatkan manusia akan kehidupan akhirat dan menjelaskan akan hakikat dunia. Beliau memberikan bimbingan kepada mereka tentang cara mendekatkan diri kepada Allah. Beliaulah yang selalu menjadi penengah bila terjadi sengketa atau keributan di antara mereka. Terkadang beliau menghibur dengan cerita-cerita yang menghibur hati yang gundah dan lelah tanpa menjatuhkan wibawanya di hadapan para sahabatnya.
Allah telah menganugerahkan kemuliaan kepada beliau, sehingga mudah mengambil  hati orang dan diterima oleh semua kalangan. Bahkan bila seseorang sedang lupa diri segera sadar  begitu melihat Ibnu Sirin di pasar, mereka ingat kepada Allah, kemudian bertahlil serta bertakbir.
Perjalanan hidup beliau adalah panduan hidup yang sangat bagus bagi manusia. Setiap kali mendapatkan persoalan dalam dagangannya, beliau memilih yang lebih selamat bagi tinjauan agama walau terkadang beliau harus rugu secara materi untuk itu.
Beliau memiliki pemahaman yang detail tentang agama, wawasan yang tajam untuk membedakan mana yang halal dan mana yang tidak. Adakalanya sikap beliau  mengundang keheranan bagi sebahagian orang.
Pernah ada orang yang berdusta dengan mengatakan bahwa Ibnu Sirin berhutang dua dirham kepadanya. Beliau bersikeras tidak mau  membayarnya, lalu orang itu menantang, “Engkau berani bersumpah?” orang itu mengira beliau tak akan bersumpah untuk itu, namun tenryata beliau menyanggupi dan ia bersumpah. Orang-orang berkata, “Wahai Abu Bakri, mengapa engkau rela bersumpah hanya karena uang dua dirham saja, padahal tempo hari Anda abaikan harta sebesar 40.000 dirham karena engkau meragukannya sedangkan tidak ada orang yang meragukan kejujuranmu.” Beliau menjawab, “Aku bersumpah karena tidak ingin jika dia makan harta yang haram, sedangkan aku tahu bahwa uang itu benar-benar haram baginya.”
Majlis Ibnu Sirin adalah majlis kebaikan, kebaktian dan nasihat. Jika orang menyebutkan keburukan orang lain di depannya, beliau bersegera mengingatkan kebaikan orang itu sepanjang pengetahuannya.
Bahkan pernah beliau mendengar seseorang mamaki Hajjaj bin Yusuf setelah matinya, beliau mendekati orang itu dan berkata, “Tahanlah wahai putra saudaraku, Hajjaj sudah kembali ke sisi Rabb-nya. Saat engkau datang kepada Rabb-mu, akan kau dapati bahwa bahwa dosa terkecil yang kau lakukan di dunia lebih kau sesali daripada dosa yang dilakukan Hajjaj. Masing-masing dari kalian akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.”
Ketahuilah wahai putra saudaraku, Allah akan menuntut Hajjaj atas kezhalimannya terhadap orang-orang, namun Allah juga akan menuntut orang-orang yang menzhalimi Hajjaj. Maka janganlah engkau sibukkan dirimu untuk memaki dan mencela orang sesudah ini.”
Sudah menjadi kebiasaan jika ada orang yang berpamitan kepada beliau untuk pergi berdagang belia berpesan, “Wahai putra saudaraku, bertakwalah kepada Allah dan carilah apa yang ditakdirkan untukmu dari jalan yang halal. Ketahuilah, kalaupun engkau mencari jalan yang tidak halal, toh engkau tidak akan memperoleh kecuali apa yang tidak ditakdirkan untukmu.”
Kalimat yang benar senantiasa ditegakkan Muhammad bin Sirin di hadapan para penguasa Bani Umayah. Beliau secara tulus mewujudkan nasihat bagi Allah, Rasul dan imam-imam kaum muslimin.
Sebagai bukti dari kesimpulan di atas adalah, ketika Umar bin Hubairah Al-Farazi yang diangkat menjadi gubernur Irak, pernah meminta Ibnu Sirin menemuinya, lalu beliau datang bersama saudaranya. Sang wali menyambutnya dengan penuh hormat kemudian bertanya banyak tentang agama dan dunia. Dia berkata, “Dalam kondisi seperti apa Anda akan tinggalkan kota Bashrah, wahai Abu Bakri?” beliau berkata, “Akan aku tinggalkan kota dimana kezhaliman telah merajalela sedangkan Anda tidak menghiraukannya.” Saudaranya mencubit kaki Ibnu Sirin demi mendengar jawaban seperti itu, tapi beliau menoleh kepadanya, “Bukan engkau yang ditanya, melainkan aku. Ini adalah kesaksian, ‘Dan barangsiapa yang menyembunyikannya maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.’ (Al-Baqarah: 253).”
Usai pertemuannya, beliau dilepas kepergiannya seperti sambutan ketika datangnya, dengan penuh santun dan rasa hormat. Lalu dihadiahkanlah sekantong uang berisi 3000 dirham dari kas negara, tapi sama sekali tak disentuhnya. Bertanyalah anak saudaranya, “Apa yang menghalangimu untuk menerima hadiah dari amir itu?” Beliau berkata, “Dia memberi karena mengira aku orang baik. Bila benar aku orang baik, tidak pantas aku mengambil uang itu. Namun jika aku tidak seperti yang dia duga, tentu lebih layak lagi untuk tidak mengambilnya…”
Allah berkehendak menguji ketulusan dan kesabaran Muhammad bin Sirin berupa cobaan seperti yang telah menimpa orang-orang mukmin lain.
Satu contoh dari ujian tersebut adalah peristiwa dimana beliau membeli minyak seharga 40.000 dirham sebanya satu bejana penuh dibayar belakangan. Ketika diperiksa ternyata ada bangkai tikus yang sudah membusuh di dalamnya. Dia pikir, “Minyak ini ditampung dalam satu wadah dan najisnya tidak hanya di sekitar bangkai itu. Jika aku kembalikan kepada penjualnya, pasti akan dijual kepada orang lain.” Maka dibuangnya semua minyak di bejana tersebut. Ini terjadi di saat perniagaannya rugi cukup besar. Akhirnya beliau terbelit hutang, pemilik minyak menagih hutangnya sedangkan beliau tak mampu membayarnya, lalu orang itu mengadukan  persoalan tesebut kepada  yang berwenang. Akhirnya diperintahkan beliau dipenjara sampai bisa mengembalikan hutangnya.
Cukup lama beliau dipenjara, hingga penjaga merasa kasihan karena mengetahui keteguhan agama dan ketakwaannya dalam ibadah. Dia berkata, “Wahai Syaikh, pulanglah kepada keluarga bila malam tiba dan kembalilah kemari pada pagi harinya. Anda bisa melakukan itu sampai Anda bebas nanti.’ Beliau menolak, “Tidak, demi Allah aku tidak akan melakukan itu.” Penjaga berkata, “Mengapa?” Beliau menjawab, “Agar aku tidak membantumu mengkhianati pemerintah.”
Ketika Anas bin Malik sakit keras, beliau berwasiat agar yang memandikan jenazahnya kelak Muhammad bin Sirin, sekaligus menshalatkannya. Tapi Ibnu sirin masih berada dalam tahanan.
Hari dimana Anas wafat, orang-orang mendatangi wali dan menceritakan tentang wasiat sahabat Rasulullah saw. dan memohonkan izin untuk Muhammad bin Sirin agar bisa melaksanakan wasiatnya. Namun beliau berkata, “Aku tidak akan keluar kecuali jika kalian mengijinkan aku kepada orang yang aku hutangi, bukankah aku ditahan karena belum mampu membayar hutangnya?”
Orang yang dihutangi pun memberikan izin sehingga ia bisa keluar dari tahanannya. Setelah selesai memandikan, mengkafani dan menshalatkan jenazah Anas r.a, beliau langsung kembali lagi ke penjara tanpa sedikitpun mengambil kesempatan  untuk mampir menengok keluarganya.
Usia Muhammad bin Sirin mencapai 77 tahun. Dalam wafatnya didapati bahwa beliau ringan dari beban dunia dan penuh pembekalan untuk hidup setelah mati. Hafshah binti Rasyid yang dikenal sebagai ahli ibadah bercerita, “Marwan Al-Mahmali adalah tetangga kami yang rajin beribadah dan tekun melaksanakan ketaatan-ketaatan. Tatkala beliau meninggal kami bersedih, lalu aku melihatnya di dalam mimpi dan aku bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, apa yang dilakukan Rabb-mu di terhadapmu?” Dia menjawab, “Allah memasukkan aku ke dalam surga.” Aku katakan, “Kemudian apa?” Dia menjawab, “Kemudian aku diangkat ke derajat ashhabul yamin.” Aku bertanya, “Lalu apa lagi?” Dia menjawab, “Lalu aku diangkat ke derajat muqarrabin.” Aku bertanya, “Siapa yang kamu lihat di sana?” Ia menjawab, “Aku melihat Al-Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin.”
Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, terj. Abu Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), hlm. 115-121
Posted by HAFIZ KHAIRI
Tag :

THOLHAH BIN UBAIDILLAH

An-najah – Kisah Thalhah bin Ubaidillah memeluk Islam sungguh unik. Berita tentang diutusnya Nabi Terakhir ia dapatkan dari pendeta nasrani. Ketika ia sedang berdagang di pasar Bushra, Syam, seorang pembantu pendeta mencari-cari pedagang yang datang dari tanah haram (Makkah). Thalhah menyatakan dirinya dari Makkah, dan ia diajak menemui rahib yang beragama Nashrani itu di biaranya. Sang Rahib bertanya kepadanya, “Apakah Ahmad telah muncul?”

Perkataan rahib ini sangat membekas di hatinya. Ia memutuskan segera pulang ke Makkah. Sesampainya di Makkah, ia bertanya kepada orang-orang tentang peristiwa yang baru saja terjadi, mereka berkata, “Muhammad bin Abdullah telah menyatakan dirinya sebagai Nabi. Abu Bakar bin Abu Quhafah mengikuti ajarannya…”“Beliau adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib, bulan ini adalah bulan dimana ia akan muncul sebagai Nabi terakhir. Tempat munculnya adalah tanah haram, dan tempat hijrahnya adalah daerah yang banyak ditumbuhi pohon kurma, banyak batu hitam dan tanahnya sangat asin sehingga jarang ditumbuhi pepohonan. Hendaknya engkau segera menyambutnya…!”
Thalhah segera menemui Abu Bakar untuk menanyakan kebenaran berita tersebut, sembari menceritakan apa yang dialaminya dengan Rahib Nashrani di Bushra, Syam. Mereka berdua segera menemui Nabi SAW.
Ketika ia menceritakan peristiwa dengan Rahib Nashrani di Bushra, Rasulullah SAW sangat gembira atas pembenaran sang Rahib dan makin menguatkan tekad beliau untuk terus mendakwahkan Islam, apapun risikonya. Thalhah sendiri seketika itu memeluk Islam, sesuai dengan yang disarankan oleh sang Rahib tersebut.
Sebagaimana para pemeluk Islam pada masa awal, ia tak terlepas dari penyiksaan dan teror dari para pembesar dan pemimpin kaum Quraisy untuk mengembalikannya ke agama jahiliah, padahal ia seorang hartawan dan terpandang di antara kaumnya.
Setelah keislamannya diketahui oleh orang-orang Quraisy, Nufail bin Khuwailid, salah seorang pembesar yang terkenal dengan sebutan ‘Singa Quraisy’ mencari-cari dirinya. Mereka bertemu Thalhah sedang berjalan dengan Abu Bakar yang segera saja keduanya ditangkap dan disiksa. Mereka berdua diikat dengan satu tambang, kemudian diancam dan diintimidasi.
Tetapi mereka tidak berani bertindak terlalu keras dan kejam karena khawatir dengan pembalasan dari kabilahnya Abu Bakar dan Thalhah. Setelah berbagai ancaman dilakukan, dari yang halus hingga keras tidak juga berhasil, akhirnya mereka melepaskannya kembali. Karena peristiwa ini, Abu Bakar dan Thalhah disebut sebagai ‘Al Qarinain’, artinya dua setangkai.
Thalhah juga mengalami penyiksaan dari ibunya sendiri, Sha’bah binti Hadramy, saudara dari seorang sahabat Nabi SAW, Ala’ bin Hadramy. Tangan Thalhah diikatkan pada lehernya, kemudian diarak berkeliling di jalan-jalan kota Makkah, diikuti rombongan keluarganya. Ibunya mengikuti di belakangnya sambil mencaci maki dirinya.
Walau disakiti dan dipermalukan oleh orang yang sangat dicintai dan dihormatinya, keyakinan dan keimanannya tidak goyah. Bagaimanapun juga Allah  dan Nabi SAW lebih dicintainya daripada ibu dan sanak keluarganya yang lain.
Tak hanya sebagai pelopor pertama orang beriman, Thalhah bin Ubaidillah termasuk dari sepuluh sahabat yang memperoleh berita gembira masuk surga ketika hidupnya. Sembilan lainnya adalah empat sahabat Khulafaur Rasyidin, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Zubair bin Awwam dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Pada waktu turun surah Al Ahzab ayat 23,  ”…Di antara orang-orang mukmin itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya sedikitpun…!”

Tuesday, 17 December 2013
Posted by HAFIZ KHAIRI
Tag :

Cara Termudah Menghafal Al-Qur`an Al-Karim


Cara Termudah Menghafal Al-Qur`an Al-Karim

             Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.
Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.

JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?
Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.

BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.
Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?
Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.
Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.

APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:
نُŲ­َŲ²ِّŲØُهُ Ų«َŁ„َŲ§Ų«َ Ų³ُوَŲ±ٍ وَŲ®َŁ…ْŲ³َ Ų³ُوَŲ±ٍ وَŲ³َŲØْŲ¹َ Ų³ُوَŲ±ٍ وَŲŖِŲ³ْŲ¹َ Ų³ُوَŲ±ٍ وَŲ„ِŲ­ْŲÆَى Ų¹َŲ“ْŲ±َŲ©َ Ų³ُورَŲ©ً وَŲ«َŁ„َŲ§Ų«َ Ų¹َŲ“ْŲ±َŲ©َ Ų³ُورَŲ©ً وَŲ­ِŲ²ْŲØَ Ų§Ł„ْŁ…ُفَŲµَّŁ„ِ Ł…ِنْ Ł‚َافْ Ų­َŲŖَّى يُŲ®ْŲŖَŁ…َ
“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).
Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.
Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: ”فَŁ…ِي ŲØِŲ“َوْŁ‚ٍ“. Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:
- Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
- Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
- Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
- Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
- Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
- Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
- Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.
Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.

BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:
1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.

[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]

Posted by HAFIZ KHAIRI
Tag :

DOWNLOAD COUNTER STRIKE 2D




Gimana Kabar Antum Semua ?? semoga Antum selalu dlm lindungan Allah SWT..
Kali ini Ana berbagi Game Perang yang sudah sangat terkenal tetapi berbeda dari biasanya yaitu Counter strike Tapi dalam Bentuk 2d..
Seperti di gambar berikut:



Nah Sekarang Saatnya Mendownload::::::
Selamat Bermain 

Wassalam...
Sunday, 15 December 2013
Posted by HAFIZ KHAIRI

DESKRIPSI SENJATA AK47

AK-47 (singkatan dari Avtomat Kalashnikova 1947, Rusia: Автомат Калашникова образца 1947 гоГа) adalah senapan serbu yang dirancang oleh Mikhail Kalashnikov, diproduksi oleh pembuat senjata Rusia IZhMASh, dan digunakan oleh banyak negara Blok Timur semasa Perang Dingin. Senapan ini diadopsi dan dijadikan senapan standar Uni Soviet pada tahun 1947.[2] Jika dibandingkan dengan senapan yang digunakan semasa Perang Dunia II, AK-47 mempunyai ukuran lebih kecil, dengan jangkauan yang lebih pendek, memakai peluru dengan kaliber 7,62 x 39 mm yang lebih kecil, dan memiliki pilihan tembakan (selective-fire). AK-47 termasuk salah satu senapan serbu pertama dan hingga kini merupakan senapan serbu yang paling banyak diproduksi.[2][3]
AK-47 Tipe 2. Ini adalah varian pertama yang menggunakan receiver tipe machined.
TipeSenapan serbu
Negara asalUni Soviet
Sejarah pemakaian
Masa penggunaan1949—
Digunakan olehUni Soviet, banyak lainnya
Sejarah produksi
PerancangMikhail Kalashnikov
Tahun1947
Jumlah produksiDi atas 100 juta[1]
VarianLihat Varian
Spesifikasi
Berat4,3 kg
Panjang870 mm (34¼ inci)
Panjang laras415 mm (16,3 inci)

Peluru7,62 x 39 mm
MekanismeOperasi gas, bolt berputar
Rata² tembakan600 butir/menit
Kecepatan peluru710 m/s
Jarak efektif300 m
AmunisiMagazen box 30 butir,
Magazen box RPK 40 butir,
Magazen drum RPK 75 butir
Alat bidikBidikan besi
PENGARUH NYA TERHADAP KEBUDAYAAN
Pada masa Perang Dingin, Uni Soviet, Tiongkok, dan Amerika Serikat memberikan peralatan dan teknologi kepada negara-negara sekutu mereka, beserta pasukan-pasukan pemberontak yang mereka dukung. Pada masa itu terjadi penyebaran besar-besaran AK-47 oleh Uni Soviet dan Tiongkok kepada negara-negara dan grup-grup pro-komunis, misalnya Sandinista Nikaragua dan Viet Cong. Desain AK-47 disebarkan ke 55 angkatan bersenjata dunia.[1]
Penyebaran AK-47 ini tidak hanya terlihat dari jumlahnya saja, AK-47 ada di dalam bendera dan lambang Mozambik. Selain itu juga terdapat pada lambang Burkina Faso, dan bendera Hizbullah. "Kalash", kependekan dari "Kalashnikov", dipakai sebagai nama anak laki-laki di beberapa negara di Afrika.
Di Amerika, pembuat film sering mempersenjatai penjahat dan teroris dengan AK-47. Banyak pula permainan komputer, permainan video, dan lagu-lagu rap yang menampilkan AK-47. Pembuat mainan dan industri airsoft juga memproduksi jutaan replika AK-47.

NegaraVarian
AlbaniaAutomatiku Shqiptar model 56 (ASH-78 Tip-1).
BulgariaAKK (Tipe 3 AK-47), AKKS (Tipe 3 dengan popor lipat samping)
AKKMS (AKMS) AKKN-47 (bisa dipasang bidikan malam NPSU)
AK-47M1 (Tipe 3 dengan polimer hitam menggantikan kayu)
AK-47MA1/AR-M1 (sama dengan M1, tapi memakai peluru 5,56 mm NATO)
AKS-47M1 (AKMS memakai 5,56 mm NATO), AKS-47MA1 (sama dengan AKS-47M1, tapi hanya semi-automatis)
AKS-47S (AK-47M1, versi pendek, popor lipat Jerman Timur, alat bidik laser)
AKS-47UF (versi pendek -M1, popor lipat Rusia), AR-SF (sama dengan -47UF, tapi memakai 5,56 mm NATO)
AKS-93SM6 (serupa dengan -47M1, tidak bisa dipasang pelontar granat)
RKKS, AKT-47 (senapan latihan, kaliber .22)
Jerman TimurMPi-K (AK-47), MPi-KS (AKS), MPi-KM (AKM), MPi-KMS72 (AKMS)
MesirAK-47, MISR 7.62 (AKM), Maadi
HungariaAKM-63, AMD-65, AMD-65M, AMMSZ, AMP, NGM 5,56
IrakTabuk (M70B1, and M70AB2)
Senapan runduk Tabuk (M70B1 dengan laras 23,6 inci, alat bidik optik, dan popor khusus)
MyanmarMA1, MA4 (berdasarkan buatan Tiongkok, menggunakan peluru kaliber NATO)
Korea UtaraType 58A (Type 3 AK-47), Type 58B (popor lipat besi), Type 68A (AKM-47), Type 68B (AKMS)
TiongkokType 56 Rifle (bukan Karabin), Type 81, Type 87
PolandiaKbk AK/PMK (AK-47), Kbk AKS/PKMS (AKS), Kbk Ak PNG60, Kbk AKM/PMKM (AKM), KbK AKMS/PMKMS, Kbk wz. 88 Tantal (AK-74 dengan popor lipat samping), Kbk wz. 96 Beryl
RomaniaAI (AK-47), AIS (AKS), AIM, AIMS (AKM, AKMS), AIR
YugoslaviaM70, M70A, M70AB2 M64 (AK-47 dengan laras lebih panjang), M64A (dengan pelontar granat), M64B (M70 dengan popor lipat)
 
 
SEKIAN...

Posted by HAFIZ KHAIRI
Tag :

Ibnu Taimiyyah Tujuh Kali Dipenjara: Ideologi yang Tak Pernah Terbui


(an-najah.net) – Orang yang dipenjara tidak selalu identik dengan pelaku kejahatan dan dosa. Yusuf as, misalnya, merupakan sosok yang diabadikan oleh Allah di Al-Qur’an, sebagai insan mulia, namun dipenjara bukan karena kesalahan yang diperbuatnya. Tidak bermaksud menyamakan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga harus menerima ujian di penjara selama tujuh kali, dengan total waktu mencapai lima tahun.
Ia dipenjara karena tuduhan palsu yang dibuat-buat karena kedengkian, fitnah, dan kebencian tanpa alasan. Namun, pengalamannya ini telah mewariskan banyak keajaiban. Dengan itu ia justru meninggalkan banyak pengaruh dan tulis yang mengabadikan namanya.
Berikut ini kronologi Ibnu Taimiyyah di penjara:

Penjara Pertama
Di Damaskus pada 693 H, ia hanya sebentar di penjara, namun dampak dan hasilnya cukup besar. Kejadiannya berawal dari seorang Nasrani bernama Assaf yang disaksikan oleh kaum muslimin, menghina Nabi saw. Ketika berita ini sampai kepada Ibnu Taimiyyah, ia pun segera menemui Zainuddin Al-Fariqi, guru di Darul Hadits pada masanya. Keduanya akhirnya sepakat untuk mengangkat persoalan itu kepada pejabat pemerintah di Damaskus, Izzuddin Ubaik.
Assaf akhirnya didatangkan bersama kuasa hukumnya sekaligus yang menyewa dirinya untuk menghina Nabi saw. Namun, karena kalah dalam persidangan, Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Zainuddin justru mendapatkan hukuman. Keduanya dilempari dengan batu. Penguasa setempat juga ikut melempari keduanya di hadapan Assaf. Kemudian, ia memanggil keduanya dan meminta kerelaan atas perbuatannya.
Assaf yang beragama Nasrani itu mengaku-aku telah masuk Islam. Namun, dalam perjalanannya ke Hijaz, ia dibunuh oleh keponakannya sendiri. Ini mungkin pembalasan dari Allah atas kezalimannya terhadap dua orang saleh tersebut.
Dalam peristiwa ini, Ibnu Taimiyyah menulis sebuah buku yang terkenal dengan judul: Ash-Sharimul Maslul ala Syatimir Rasul (Pedang Terhunus atas Penghina Rasul saw).  Kitab ini menjadi rujukan setiap umat ini mendapati orang yang menghina para nabi dan utusan Allah.

Penjara Kedua
Kali ini ia dipenjara di Kairo, selama satu tahun setengah, mulai Jumat 26 Ramadhan 705 H sampai Jumat 23 Rabiul Awwal 707. Pada awalnya ia di tempatkan di Penjara Burj, dan kemudian ditransfer ke Penjara Qal’atul Jabal.
Di penjara ini ia tidak sendirian, tetapi bersama dengan Abdullah, Abdurrahman, dan muridnya Ibrahim Al-Ghayani. Mereka bertiga ini memang selalu bersama Ibnu Taimiyyah  dalam perjalanannya ke Kairo.
Penyebabnya, seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah pada rangkuman peristiwa Tahun 705, adalah persoalan tauhid asma’ wa sifat, yaitu tentang Arsy, Kalam, dan Nuzul (turunnya Allah).
Ibnu Taimiyyah menunjukkan sikap heroik dan kejujuran dalam memenang keyakinan tentang Allah yang mengisi jiwa dengan iman dan kesungguhan untuk beramal.
Ketika ia dikeluarkan dari penjara, saudaranya Abdullah, yang dihormati manusia ketika itu menyebut orang-orang yang memenjarakannya sebagai orang yang zalim dan suka permusuhan. Namun, Ibnu Taimiyyah tidak menyukai itu dan mengatakan kepadanya, “Katakanlah: Ya Allah, berilah mereka cahaya yang menuntun ke jalan kebenaran.”

Penjara ketiga
Di Mesir, selama dua pekan, mulai 3/10/707 sampai 18/10/707 H.
Penyebabnya karena ia menulis sebuah buku tentang istighatsah yang dikenal dengan bantahan atas pemikiran para pengikut Abu Bakar Al-Arabi, tokoh sufi.

Penjara keempat
Di Mesir juga, di Ruang Demarkasi, selama dua bulan atau lebih, mulai Syawal  707 sampai awal 708 H.
Penyebabnya karena provokasi yang dikendalikan oleh kelompok sufi mistis Al-Hululi, yang mengambil keuntungan dari kedekatan mereka dengan penguasa setempat waktu itu.

Penjara kelima
Di Alexandria pada 1/3/709 sampai 8/10/709 H, yakni selama tujuh bulan. Ia dipenjara karena makar dari para pendukung tokoh sufi yang dikuatkan oleh penguasa ketika itu.
Mereka bertekad untuk membuang Ibnu Taimiyyah ke Siprus, dan mengancam akan dibunuh. Ketika ancaman itu disampaikan kepadanya, ia  menjawab dengan ungkapan yang mengesankan, “Kalau aku dibunuh, itu adalah kesyahidan bagiku. Bila aku diusir, itu  adalah hijrah bagiku. Kalau aku dibuang ke Siprus, lalu aku menyeru penduduknya kepada Allah, mereka akan menyambut seruanku. Kalau mereka memenjarakan diriku, maka itu adalah tempat ibadah bagiku, aku ini bagaikan domba yang bagaimana pun berguling, ia akan berguling di bulunya yang tebal.”
Mereka pun putus asa dan meninggalkan Ibnu Taimiyyah.
Allah telah berjanji untuk membela orang beriman. Hanya beberapa bulan di penjara, Raja Nasir Muhammad bin Qalawun berkuasa menggantikan si pengkhianat, Jaishankar. Qalawun membebaskan Ibnu Taimiyyah memanggilnya agar pindak ke Kairo. Ia pun mendapatkan kehormatan dan kemuliaan di sisi Raja. Raja meminta fatwa kepadanya agar para ulama yang berpihak kepada Jaishankar dibunuh saja.
Namun, Ibnu Taimiyyah tahu keinginan Raja bahwa ia hanya ingin terbebas dari gangguan mereka dan balas dendam atas dirinya. Ia pun berkata, “Mereka adalah orang-orang mulia di kerajaanmu. Kalau engkau membunuh mereka, engkau tidak akan mendapatkan pengganti.”
Setelah tinggal di Kairo, masyarakat dari banyak lapisan selalu meminta fatwa kepadanya agar orang-orang yang memusuhinya diperangi. Namun, ia menjawab, “Saya telah memaafkan siapa pun yang menyakitiku. Adapun orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allahlah yang akan membalasnya.”
Ia kemudian kembali ke Damaskus, didampingi oleh Sultan untuk memerangi bangsa Tatar pada 8/10/719 H. Tujuh tahun lamanya ia meninggalkan Damaskus karena dipenjara empat kali selama dua setengah tahun.

Penjara keenam
Kali ini bada di Damaskus selama hampir enam bulan, mulai Kamis 12/7/720 sampai Senin 10/1/721 H. Penyebabnya adalah persoalan sumpah perceraian.
Di penjara ini ia menulis banyak makalah dan buku, di antaranya adalah bantahan terhadap persoalan sumpah dalam perceraian itu sendiri.

Penjara ketujuh
Di Damaskus selama dua tahun tiga setengah bulan, mulai dari Senin 6/8/726 sampai Senin malam 20/11/728 H. Di penjara inilah ia wafat dan jenazahnya dikeluarkan menuju pemakamannya. Penyebabnya adalah persoalan ziarah ke tempat-tempat suci.
Dalam persoalan ziarah ini, Syaikhul Islam menyampaikan dua pendapat, yaitu pendapat Imam Malik yang melarang ziarah kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Aqsha. Kedua adalah pendapat sebagian penganut mazhab Syafi’i dan Hambali yang membolehkan hal itu. Sebenarnya, tidak ada alasan lain untuk memusuhi Ibnu Taimiyyah selain karena hawa nafsu, fanatisme dan taklid buta. Semoga Allah memberikan tempat yang baik bagi Ibnu Taimiyyah atas keteguhannya meski dicela. [is].
Posted by HAFIZ KHAIRI
Tag :

Popular Post

Blogger templates

 

Blog Archive

Pengunjung

Powered by Blogger.

Multimedia Updates

Pages

featured-slider

- Copyright © Mujahideen Force™ -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -